ABSTRAK :
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis puisi berdasarkan buku IBD bab 4 manusia dan cinta kasih. Metode yang digunakan adalah analisis konten atau analisis isi. Analisis isi secara umum diartikan sebgai metode yang meliputi semua analisis mengenai isi teks dalam puisi yang kali ini saya akan bahas. Puisi yang saya akan analisis kali ini adalah Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar. Puisi ini saya ambil dari jurnal Analisis Struktur Batin Puisi "Senja di Pelabuhan Kecil" Karya Chairil Anwar dibuat oleh Muhammad Abdul Rohman, Teti Sobari, dan juga Via Nugraha. Metode yang saya gunakan dalam menganalisa puisi kali ini adalah dengan menggunakan pendapat dari buku IBD subbagian bab 4. Jika terdapat kesesuaian antara puisi dan pendapat dari subbagian bab 4, maka tuliskan analisisnya beserta bagian pada puisi yang sesuai dengan pendapat tersebut. Adapun hasil yang didapat ada yang sesuai dan juga ada yang tidak sesuai dengan statement pada buku IBD bab 4.
SENJA DI PELABUHAN KECIL
Oleh : Chairil Anwar
Buat Sri Ayati
Puisi Chairil Anwar ini yakni sebuah kedukaan, kedukaan terlihat dan terasa jika ditangkap lewat pengunaan bahasanya. Sejalan dengan Somad (Sulkifli & Marwati, 2016) munculnya tema tertentu akan memberikan dorongan yang kuat untuk menghasilkan karya puisi. Kedukaan karena apa ? Hal ini belum dapat di jawab dengan jelas. Namun halnya saat kita teliti satu bait demi satu baitnya kita akan pendapatkan jawaban yang mengemukakan penyair.
Kali ini izinkan saya untuk menganalisis kumpulan puisi ini dari berbagai sudut pandang.
1. Pengertian Cinta Kasih
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadanninta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karna itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.
Walaupun cinta kasih mengandung arti hampir bersamaan, namun terdapat perbedaan juga antara keduanya. Cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan kasih lebih ke luarnya; dengan kata lain bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.
Cinta memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan penteliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Detnikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintah-Nya, dan berpegang teguh pada syariat-Nya.
Menurut saya, dalam puisi yang saya bawakan kali ini tidak ditemukan bait yang menggambarkan pendapat dari W.J.S Poerwadanninta.
Dalam bukunya seni mencinta, Erich Fromm menyebutkan, bahwa cinta itu terutama memberi, bukan menerima. Dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Yang paling penting dalam memberi ialah hal-hal yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Cinta selalu menyatakan unsur-unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian dan pengenalan.Pada pengasuhan contoh yang paling menonjol adalah cinta seorang ibu pada anaknya, bagaimana seorang ibu dengan rasa cinta kasih mengasuh anaknya dengan sepenuh hati, Sedang dengan tanggung jawab dalam arti benar adalah sesutu tindakan yang sama sekali sukarela yang dalam kasus hubungan ibu dan anak bayinya menunjukkan penyelenggaraan atas hubungan fisik, Unsur yang ketiga adalah perhatian yang berarti memperhatikan bahwa pribadi lain itu hendaknya berkembang dan membuka diri sebagaimana adanya, yang keempat adalah pengenalan yang merupakan keinginan untuk mengetahui rahasia manusia. Dengan keempat unsur tersebut yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian dan pengenalan suatu cinta dapat dibina secara lebih baik.
Dalam puisi ini tidak ditemukan adanya unsur pengasuhan, tanggung jawab, perhatian dan pengenalan.
Pengertian tentang cinta dikemukanakn juga oleh Dr Sarlito W. Sarwono. Dikatakannya bahwa cinta memilikki tiga unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan. Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia. Kalau janji dengan dia harus ditepati, ada uang sedikit beli oleh-oleh untuk dia. Unsur yang kedua adalah keintiman, yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan-panggilan fomal seperti bapak, Ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan:sayang dan sebagainya. Makan minum dari satu piring-cangkir tanpa rasa risi, pinjam meminjam baju, saling memakai uang tanpa rasa berhutang, tidak saling menyimpan rahasia dan lain-lainnya. Unsur yang ketiga adalah kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang, dan seterusnya . Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut yang menunjukkan segitiga cinta.
Dalam puisi ini tidak terdapat unsur keterikatan, keintiman, dan kemesraan.
Selanjutnya Dr. Sarlito W. Sarwono mengemukakan, bahwa tidak semua unsur cinta itu sama kuatnya. Kadang-kadang ada yang keterikatannya sangat kuat, tetapi keintiman atau kemesraannya kurang. Cinta seperti itu mengandung kesetiaan yang amat kuat, kecemburuannya besar, tetapi dirasakan oleh pasangannya sebagai dingin atau hambar, karena tidak ada kehangatan yang ditimbulkan kemesraan atau keintiman. Misalnya cinta sahabat karib atau saudara sekandung yang penuh dengan keakraban, tetapi tidak ada gejolak-gejolak mesra dan orang yang bersangkutan masih lebih setia kepada hal-hal lain dari pada partnemya.
Cinta juga dapat diwarnai dengan kemesraan yang sangat menggejolak, tetapi unsur keintiman dan keterikatannya yang kurang. Cinta seperti itu dinamakan cinta yang pincang, karena garis-garis unsur cintanya tidak membuat segitiga sama sisi, seperti nyata pada gambar berikut.
Lebih berat lagi bila salah satu unsur cinta itu tidak ada, sehingga tidak terbentuk segitiga, cinta yang demikian itu tidak sempurna, dan dapat disebutkan bukan cinta.
Selain pengertian yang dikemukakan oleh Sarlito, lain halnya pengertian cinta yang dikemukakan oleh Dr. Abdullah Nasih Ulwan, dalam bukunya manajemen cinta. Cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut, dan kasih sayang. Cinta adalah fitrah manusia yang murni, yang tak dapat terpisahkan dengan kehidupannya. Ia selalu dibutuhkan, jika seseorang ingin menikmatinya dengan cara terhormat dan mulia, suci dan penuh taqwa, tentu ia akan mempergunakan cinta itu untuk mencapai keinginannya yang suci dan mulia pula.
Didalam kitab Suci Alqur'an, ditemui adanya fenomena cinta yang bersembunyi di dalam jiwa manusia. Cinta memiliki tiga tingkatan-tingkatan : tinggi, menengah dan rendah. Tingkatan cinta tersebut diatas adalah berdasarkan firman Alloh dalam surah At-Taubah ayat 24 yang artinya sebagai berikut :
katakanlah:jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai; adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
Cinta tingkat tertinggi adalah cinta kepada Allah, Rasulullah dan berjihad di jalan Allah. Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak, saudara, istri/suami dan kerabat. Cinta tingkat terendah adalah cinta yang lebih mengutamakan cinta keluarga, kerabat, harta dan tempat tinggal.
Bagi setiap orang Islam yang bertakwa, sudah menjadi keharusan bahwa cinta kepada Allah, pada Rasulullah, dan berjihad di jalan Allah, adalah merupakan cinta yang tidak ada duanya. Hal ini merupakan konsekwensi iman dan merupakan keharusan dalam Islam. Bahkan itu pendorong utama di dalam menunjang tinggi agama.
Tak diragukan lagi, bahwa seorang yang telah merasakan kelezatan iman di dalam hatinya, ia akan mencurahkan segala cintanya hanya kepada Tuhan. Karena ia telah meyakini bahwa dzat Tuhanlah yang maha sempuma, maha indah dan maha agung. Tak ada satupun selain dia yang memiliki kesempumaan sifat-sifat tersebut. Maka dengan ketulusan iman yang sejati itulah yang harus diikuti karena dialah yang maha tinggi, maha sempurma dan maha agung.
Dalam puisi ini tidak ditemukan unsur cinta kepada Allah atau Tuhan.
Hakekat cinta menengah adalah suatu energi yang datang dari perasaan hati dan jiwa. Ia timbul dari perasaan seseorang yang dicintainya, aqidah, keluarga, kekerabatan, atau persahabatan. Karenanya hubungan cinta, kasih sayang dan kesetiaan diantara mereka, semakin akrab.
Berangkat dari perasaan lembut yang dițanamkan oleh Tuhan dalam hati dan jiwa seseorang inilah, akan terbentuk perasaan kasih sayang dan cinta dari seseorang terhadap orang lain : seorang anak terhadap orang tuanya, orang tua terhadap anak-anaknya, seorang suami terhadap istrinya atau sebaliknya istri terhadap suaminya, cinta seseorang terhadap sanak saudara dan familinya, cinta seseorang terhadap sahabatnya, atau seorang penduduk pada tanah airnya.
Menurut pendapat saya, pada puisi ini tidak terdapat hakekat cinta menengah.
Adapun pengaruh yang ditimbulkan oleh cinta menengah ini akan nampak jelas hasilnya. Jika bukan disebabkan perasaan kasih sayang yang ditanamkan oleh Tuhan dalam hati, sepasang suami istri, tentu tidak akan terbentuk suatu keluarga, tak akan ada keturunan, tak akan ada keturunan, tak akan terwujud asuhan, bimbingan, dan pendidikan terhadap anak. Cinta tingkat terendah adalah cinta yang paling keji, hina dan merusak rasa kemanusiaan. Karena itu ia adalah cinta rendahan. Bentuknya beraneka ragam misalnya :
1. Cinta kepada thagut. Thagut adalah syetan, atau sesuatu yang disembah selain Tuhan. Dalam surat Al Baqarah, Allah berfiman :
dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.
2. Cinta berdasarkan hawa nafsu
3. Cinta yang lebih mengutamakan kecintaan kepada orang tua, anak, istri, perniagaan dan tempat tinggal.
Tidak ditemukan adanya unsur pengaruh yang ditimbulkan oleh cinta menengah di puisi ini.
Hikmah cinta adalah sangat besar. Hanya orang yang telah diberi kefahaman dan kecerdasan oleh Allah sajalah yang mampu merenungkannya. Diantara hikmah-hikmah tersebut adalah:
1. Sesungguhnya cinta itu adalah merupakan ujian yang berat dan pahit dalam kehidupan manusia, karena setiap cinta akan mengalami berbagai macam rintangan . Apakah seseorang akan menempuh cintanya-dengan cara yang terhormat dan mulia ? Ataukah ia akan meraihnya dengan cara yang rendah dan hina ? apakah ia akan berjual mahal dengan cintanya, ataukah biasa-biasa saja ? apakah ia benar-benar tertarik dengan kekasihnya, ataukah sekedar main-main saja ? semuanya dapat diketahui setelah ia mendapatkan rintangan dalam perjalannya.
2. Bahwa fenomena cinta yang telah melekat di dalam jiwa manusia merupakan pendorong dan pembangkit yang paling besar di dalam melestarikan kehidupan lingkungan. Kalau bukan karena cinta, tentu manusia tidak akan pemah terdorong gairah hidupnya untuk mewujudkan apa yang địcita-citakan. Pendek kata kalau bukan karena fenomena cinta, tak akan pemah ada gerakan, kreasi dan apresiasi di dunia ini. Juga tak akan permah ada pembangunan dan kemajuan.
3. Bahwa fenomena cinta merupakan faktor utama didalam kelanjutan hidup manusia, dalam kenal-mengenal antar mereka. Juga untuk saling memanfaatkan kemajuan bangsa. la merupakan modal utama di dalam mengenal berbagai macam ilmu pengetahuan yang tersimpan di dalam keindahan alam, kehidupan dan kemanusiaan.
4. Fenomena cinta, jika diperhatikan merupakan pengikat yang paling kuat di dalam hubungan antar anggota keluarga, kerukunan bermasyarakat, mengasihi sesama mahluk hidup, menegakkan keamanan, ketentraman, dan keselamatan di segala penjuru bumi. Cinta merupakan benih dari segala kasih dan sayang, dan segala bentuk persahabatan, dimanapun adanya.
Tidak ditemukan adanya hikmah cinta pada puisi Senja di Pelabuhan Kecil.
Ada yang berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama, tetapi dalam kenyataan hidup manusia masih mendambakan tegaknya cinta dalam kehidupan ini. Disatu pihak lain dalam praktek kehidupan cinta sebagai dasar kehidupan jauh dari kenyataan. Atas dasar ini, agama memberikan ajaran cinta kepada manusia. Dalam kehidupan manusia cinta menempakan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang mencintai dirinya sendiri. Kadang-kadang mencintai orang lain atau juga istri dan anaknya, hartanya. Atau Allah dan Rasulnya berbagai bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab suci al-Qur’an.
Menurut pendapat saya, dalam puisi yang saya bawakan tidak terdapat bait yang sesuai dengan pendapat yang ada di atas.
Cinta diri
Cinta diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya, dan mengaktualisasikan diri. Pun ia mencintai segala sesuatu yang mendatangkan kabaikan pada dirinya. Sebailiknya ia membenci segala sesuatu yang menghalanginya untuk hidup, berkembang dan mengaktualisasikan diri. Ia juga membenci segala sesuatu yang mendatangkan rasa sakit, penyakit dan mara bahaya. Al-Quran telah mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri ini, kecenderungannya untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindari dari segala sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya, melalui ucapan Nabi Muhammad SAW, bahwa seandainya beliau mengetahui hal-hal gaib, tentu beliau akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan.
Diantara gejala yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya serídiri ialah kecintaannya yang sangat terhadap harta, yang dapat merealisasikan semua keinginannya dan memudahkan baginya segala sarana untuk mencapai kesenangan dan kemewahan hidup. (QS, al-‘Adiyat, 100:8)
Diantara gejala lain yang menunjukkan kecintaan manusia pada dirinya sendiri ialah pemohonannya yang terus menerus agar dikarunia harta, kesehatan, dan berbagai kebaikan dan kenikmatan hidup lainnya. Dan apabila ia tertimpa bencana, keburukan, atau kemiskinan, ia merasa putus asa dan mengira ia tidak akan bisa memperoleh karunia lagi (QS, Fushilat, 41:49
Namun hendaknya cinta manusia pada dirinya tidaklah terlalu berlebih-lebihan dan melewati batas. Sepatutnya cinta pada diri sendiri ini diimbangi dengan cinta pada orang lain dan cinta berbuat kebajikan kepada mereka.
Tidak ditemukann unsur cinta diri dalam puisi Senja di Pelabuhan Kecil.
Cinta kepada sesama manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan kehamonisan dengan manusia lainnya, tidak boleh tidak ia harus membatasi cintanya pada diri sendiri dan egoismenya. Pun hendaknya ia menyeimbangkan cintanya itu dengan cinta dan kasih sayang pada orang-orang lain, bekerja sama dengan dan memberi bantuan kepada orang lain. Oleh karena itu, Allah ketika memberi isyarat tentang kecintaan manusia pada dirinya sendiri, seperti yang tampak pada keluh kesahnya apabila ia tertimpa kesusahan dan usahanya yang terus menerus untuk memperoleh kebaikan serta kebakhilannya dalam memberikan sebagian karunia yang diperolehnya, setelah itu Allah langsung memberi pujian kepada orang-orang yang berusaha untuk tidak berlebih-lebihan dalam cintanya kepada diri sendiri dan melepaskan diri dari gejala-gejala itu adalah dengan melalui iman, menegakkan shalat, memberikan zakat, bersedekah kepada orang-orang miskin dan tak punya, dan menjauhi segala larangan Allah. Keimanan yang demikian ini akan bisa menyeimbangkan antara cintanya kepada diri sendiri dan cintanya pada orang lain, dan dengan denmikian akan bisa merealisasikan kebaikan individu dan masyarakat. Al-Qur'an juga menyeru kepada orang-orang yang beriman agar saling cinta mencintai seperti cinta mereka pada diri mereka sendiri. Dalam seruan itu sesungguhnya terkandung pengarahan kepada para mukmin agar tidak berlebih-lebihan dalam mencintai diri sendiri.
Al-Quran juga menyeru kepada orang-orang yan beriman agar saling cinta mencintai seperti cinta mereka pada diri mereka sendiri. Dalam seruan itu sesungguhnya terkandung pengarahan kepada para mukmin agar tidak berlebih-lebihan dala mencintai diri sendiri.
Dalam puisi ini tidak ditemukan unsur cinta kepada sesama manusia.
Cinta Seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerjasama antara suami dan istri. la merupakan faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga :
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir.” Qs, Ar-Rum, 30:21)
Dorongan seksual melakukan suatu fungsi penting. yaitu melahirkan keturunan demi kelangsungan jenis. Lewat dorongan seksualah terbentuk keluarga. Dari keluarga terbentuk masyarakat dan bangsa. Dengan demikian bumi pun menjadi ramai, bangsa-bangsa saling kenal mengenal, kebudayaan berkembang, dan ilmu pengetahuan dan industri menjadi maju. Islam mengakui dorongan seksual dan tidak mengingkarinya. Jelas dengan sendirinya ia mengakui pula cinta seksual yang menyertai dorongan tersebut. Sebab ia merupakan emosi alamiah dalam diri manusia yang tidak diingkari, tidak ditentang ataupun ditekannya. Yang diserukan Islam hanyalah pengendalian dan penguasaan cinta ini, lewat pemenuhan dorongan tersebut dengan cara yang sah, yaitu dengan perkawinan.
Dalam puisi ini tidak terdapat bait yang sesuai dengan unsur cinta seksual.
Cinta Kebapakan
Mengingat bahwa antara ayah dengan anak-anaknya tidak terjalin oleh ikatan-ikatan fisiologis seperti yang menghubungkan si ibu dengan anak-anaknya, maka para ahli jiwa modern berpendapat bahwa dorongan kebapakan bukanlah dorongan fisiologis seperti halnya dorongan keibuan, melainkan dorongan phikis. Dorongan ini Nampak jelas dalam cinta bapak kepada anak-anaknya, karena mereka sumber kesenangan dan kegembiraan baginya. Sumber kekuatan dan kebanggaan, dan merupakan factor penting bagi kelangsungan peran bapak dan kehidupan dan tetap terkenangnya dia setelah meninggal dunia. Ini terlihat jelas dalam doa zakaria as, yang memohon pada allah semoga ia dikarunia seorang anak yang akan ewarisinya dan mewarisi keluarga ya’qub:
"la berkata : "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnyya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai : QS, Maryam, 19:4-6)
Cinta kebapakan dalam Al-Qur'an diisyaratkan dalam kisah nabi Nuh as. Betapa cintanya ia kepada anaknya, tampak jelas ketika ia memanggilnya dengan penuh rasa cinta, kasih sayang, dan belas kasihan, untuk naik ke perahu agar tidak tenggelam ditelan ombak :
"...Dan Nuh memanggil anaknya - sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil - : “Hai…anakku, naiklah (kekapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama-sama orang-orang yang kafir “(QS, Yusuf, 12:84)
Cinta ini nampak pula dalam doa nabi Nuh as, yang memohon pada Allah semoga anaknya selamat :
"Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata : “Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya (QS, Hud, 11:45)
Biasanya cinta kebapakan nampak dalam perhatian seorang bapak pada anak-anaknya,asuhan, nasehat, dan pengarahan yang diberikannya pada mereka, demi kebaikan dankepentingan mereka sendiri.
Di dalam puisi ini tidak terdapat unsur Cinta kebapakan.
Cinta kepada Allah
Puncak cinta manusia, yang paling bening, jernih dan spiritual ialah cintanya kepada allah dan kerinduannya kepada-nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian dan doannya saja, tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya. Semua tingkah laku dan tindakannya ditujukan kepada allah, mengharapkan penerimaan dan ridha-nya.
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah maha pengampun lagi maha penyayang" (QS, Ali Imran, 3:31)
Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan membuat cinta itu menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkannya dalam kchidupannya dan menundukkan semua bentuk kecintaan lainnya. Cinta ini pun juga akan membuatnya menjadi seorang yang cinta pada sesama manusia, hewan, semua mahluk Allah dan seluruh alam semesta. Sebab dalam pandangannya semua wujud yang ada di sekelilingnya mempunyai manifestasi dari Tuhannya yang membangkitkan kerinduan-kerinduan spiritualnya dan harapan kalbunya.
Dalam puisi ini tidak ditemukan bentuk cinta kepada Allah.
Cinta kepada Rasul
Cinta kepada rasul, yang diutus Allah sebagai rahmah bagi seluruh alam semesta, menduduki peringkat ke dua setelah cinta kepada Allah. Ini karena Rasul merupakan ideal sempuma bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya. Scorang mukmin yang benar-benar beriman dengan sepenuh hati akan mencintai Raşulullah yang telah menanggung derita dakwah Islam, berjuang dengan penuh segala kesulitan sehingga Islam tersebar di seluruh penjuru dunia, dan membawa kemanusiaan dari kekelaman kesesatan menuju cahaya petunjuk.
Dalam puisi ini tidak terdapat bentuk cinta kepada Rasul.
Pengertian kasih sayang menurut kamus umum bahasa indonesia karangan W.J.S.Poerwadamminta adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.
ini kali tidak ada yang mencari cinta
Puisi Karya Chairil Anwar yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil ini sangat menggambarkan rasa kasih sayang, karena penyair mengungkapkan perasaannya dalam syair ini. Ini kali tidak ada yang mencari cinta, baris pertama tersebut cukup menyatakan si penyair, bahwa sudah tidak ada lagi yang mencari cinta.
Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan, maka didalam berumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.
Dalam puisi ini tidak ada unsur kasih sayang dalam kehidupan berumah tangga merupakan kunci kebahagiaan.
Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran, terancamlah kebahagiaan rumah tangga itu.
Yang dapat merasakan kasih sayang bukan hanya suami atau istri atau anak-anak yang telah dewasa, melainkan bayi yang masih merahpun telah dapat merasakan kasih sayang dari ayah dan ibunya. Bayi yang masih merah telah dapat mengenal suara atau sentuhan tangan ayah ibunya. Bagaimana sikap ibunya memegang/menggendong telah dikenalnya. Hal ini karena sang bayi telah mempunyai kepribadian.
Pada puisi Senja di Pelabuhan Kecil tidak terdapat unsur penuntutan dalam kasih sayang.
Kasih sayang, dasar komunikasi dalam suatu keluarga. Komunikasi antara anak dan orang tua. pada prinsipnya anak terlahir dan terbentuk sebagai hasil curahan kasih sayang orang tuanya. Pengembangan watak anak dan selanjutnya tak boleh lepas dari kasih sayang dan perhatian orang tua. Suatu hubungan yang harmonis akan terjadi bila hal itu terjadi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
Suatu kasus yang sering terjadi, yang menyebabkan sescorang menjadi morfinis, keberandalan remaja, frustasi dan sebaginya, dimana semuanya dilatar belakangi kurangnya perhatian dan kasih sayang dalam kehidupan keluarganya.
Pada puisi ini tidak terdapat unsur komunikasi dalam keluarga. Dalam puisi ini juga tidak terdapat mengenai kurangnya perhatian dan kasih sayang dalam kehidupan berkeluarga.
Adanya kasih sayang ini mempengaruhi kehidupan si anak dalam masyarakat. Orang tua dalam memberikan kasih sayangnya bermacam-macam demikian pula sebaliknya. Dari cara pemberian cinta kasih ini dapat dibedakan :
(1) Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat pasif
Dalam hal ini orang tua memberikan kasih sayang terhadap anaknya baik berupa moral-materiil dengan sebanyak-banyaknya, dan si anak menerima saja, mengiyakan, tanpa memberikan respon. Hal ini menycbabkan si anak menjadi takut, kurang berani dalam masyarakat, tidak berani menyatakan pendapat, minder, sehingga si anak tidak mampu berdiri sendiri di dalam masyarakat.
(2) Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat aktif.
Dalam hal ini si anak berlebih-lebihan memberikan kasih sayang terhadap orang tuanya, kasih sayang ini diberikan secara sepihak, orang tua mendiamkan saja tingkah laku si anak, tidak memberikan perhatian apa yang diperbuat si anak.
(3) Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat pasif.
Di sini jelas bahwa masing-masing membawa hidupnya, tingkah lakunya sendiri-sendiri, tanpa saling memperhatikan. Kehidupan keluarga sangat dingin, tidak ada kasih sayang. masing-masing membawa caranya sendiri, tidak ada tegur sapa jika tidak perlu. orang tua hanya memenuhi dalam bidang materi saja.
(4) Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat aktif
Dalam hal ini orang tua dan anak saling memberikan kasih sayang dengan sebanyak-banyaknya. Sehingga hubungan antara orang tua dan anak sangat intim dan mesra, saling mencintai, saling menghargai, saling membutuhkan.
Dalam puisi ini tidak ada unsur cara pemberian cinta kasih dan kasih sayang orang tua kepada anak.
Kasih sayang itu nampak sekali bila seorang ibu sedang menyusui atau menggendong, bayinya itu diajak bercakap-cakap, ditimang-timang, dinyanyikan, meskipun bayi itu tak tahu arti kata-kata, lagu dan sebagainya.
Asrus Sani dalam sajaknya “surat dari Ibu" mengungkapkan betapa tulus cinta kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Coba anda perhatikan sajak Asrul Sani di bahwah ini.
SURAT DARI IBU
Pergi ke dunia luas, anakku sayang
Pergi ke hidup bebas!
Selama angin masih angin buritan
Dan matahari pagi menyinar daun-daunan
Dalam rimba dan padang hijau
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
Pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang,
Dan warna senja belum kemerah-merahan
Menutup pintu waktu lampau
Jika bayang telah pudar
Dan elang laut pulang ke sarang
Angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
Dan nahkoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padaku!
Kembali pulang, anakku sayang
Kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita:
tentang cinta dan hidupmu pagi hari
Dalam sajaknya itu, Asrul Sani mengungkapkan betapa tulus dan cinta kasih sayang seorang ibu kepada anaknya bukan dengan memanjakannya melainkan dengan nasehat dan petuah-petuah agar anaknya pergi menuntut ilmu ke negeri seberang, dan mencari pengalaman hidup sebanyak-banyaknya. Kalau anaknya telah menjadi “orang" barulah ia boleh pulang. dan si ibu akan membicarakan masa depannya, hidup berumah tangga.
Dalam sajaknya yang lain yaitu “elang laut", Asrul Sani secara simbolik juga mengungkapkan pengalaman batinnya tentang kasih sayang, tanggung jawab dan pengorbanan yang tulus dari seekor induk elang laut terhadap anak-anaknya, tanpa menghiraukan dirinya. Akhimya sang induk gagal membawakan makanan untuk anak-anaknya di sarang, karena ditengah jalan setelah terbang mati-matian melawan badai ia mati dan tenggelam ke dasar lautan. Dan anak-anaknya pun mati kelaparan di sarangnya. suatu musibah keluarga yang sungguh tragis. Dibawah ini dikutipkan sajak elang laut karya Asrul Sani.
Elang Laut
As Ada elang laut terbang
senja hari
antara jingga dan merah
surya hendak turun
pergi ke sarangnya
Apakah ia tahu juga,
bahwa panggilan cinta
tiada ditahan kabut
yang menguap pagi hari
Bunyinya menguak suram
lambat-lambat
mendekat, ke atas runyam
karang putih,
makin nyata
Sekali ini jemu dan keringat
tiada akan punya daya
tapi topan tiada mau
dan rnengembus ke alam luas
Jatuh elang laut
ke air biru, tenggelam
dan tiada timbul lagi
Rumahnya di gunung kelabu
akan terus sunyi.
Satu-satu akan jatuh membangkai
ke bumi, bayi-bayi kecil tiada bersuara
Hanya anjing,
malam hari meraung menyalak bulan
yang melengkung sunyi
Suaranya melandai
turun ke pantai
Jika segala
senyap pula,
berkata pemukat tua:
“anjing meratapi orang mati!”
Pada puisi ini tidak ditemukan tulusnya rasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Ada bemacam-macam kasus kasih sayang dalam kehidupan. Semua orang tua mengharapkan hidup anaknya bahagia. Karena itu, tidak sedikit orang tua menumpahkan kasih sayang secara berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan pendapatnya. Ada yang secara berlebihan, disiplin, secara memberikan kebebasan dan sebagainya. Karena itu ada yang berhasil, tetapi banyak juga yang gagal.
Bila orang tua menumpahkan kasih sayang secara berlebihan, maka cara itu cenderung kepada pemanjaan. Seperti dalam novel “salah Asuhan" karangan Abdul Muis.
Sungguhpun ibunya orang kampung, dan selamanya tinggal diam di kampung saja, tapi sebab kasih kepada anaknya, ditinggalkannya rumah gadang di kota Anau, dan tinggallah ia bersama-sama Hanafi di Kota Solok.
Maka tiadalah ia segan-segan mengeluarkan uang buat mengisi rumah sewaan di Solok itu secara yang dikehendaki oleh anaknya, Hanafi berkata, bahwa ia dari kecilnya hidup di dalam rumah orang Belanda saja; jadi tidak senanglah hatinya, jika aturan mengisi rumahnya tidak mengarah-arah itu pula.
Tapi sepanjang hari orang tua itu termangu-mangu sanaja; karena dari beranda muka sampai ke dapur dan kamar mandi diperbuat secara aturan rumah orang Belanda. Perempuan Bumiputera dari kampung memang lebih senang duduk bersimpuh dari pada di atas kursi. Ia gemar sekali berkunjung-kunjung dengan orang lain. Tempat sirih, tempat ludahnya dan dapur itulah barang-barang yang sangat digemarinya melihat setiap hari; itulah dunianya.
Tapi hanafi sekali-kali tidak mengindahkan segala kesenangan ibunya itu. Setiap sudut rumah sudah dipenuhi meja-meja kecil, tempat pot bunga dan lain-lain, sedang yang diadakan oleh ibunya buat kesenangan orang tua itu, selalu dibantahinya.
"penat pinggangku đuduk di kursi dan berasa perai kakiku duduk berjuntai, Hanafi," sahut ibunya, “kesenangan ibu hanyalah duduk di bawah, sebab semenjak ingatku dibawah saja."
"Itulah salahnya, ibu, bangsa kita dari kampung; tidak suka menurutkan putaran jaman. Lebih suka duduk rungkuh dan duduk mengukul saja sepanjang hari. Tidak ubah dengan kerbau bangsa kita, bu ! dan segala sirih menyirih itu.brr !!!"
Akhimya orang tua itu tidak berani lagi mengubah sesuatu apa di dalam rumah, melainkan dibersihkan saja sesuatu sudut dimuka dapur, disanalah ia bersenda gurau atau menerima tamu yang datang. makin lama makin bimbanglah hatinya melihat anak yang kebelanda-belandaan itu. Pakaiannya cara Belanda, pergaulannya dengan orang Belanda saja.
Jika kita berbahasa melayu, meskipun dengan ibunya sendiri, maka dipergunakan bahasa Riau, dan kepada orang yang di bawahnya ia berbahasa cara orang Betawi, begitupun juga sebagai dipatah-patahkan lidahnya dalam bahasa sendiri.
Yang sangat menyedihkan hati ialah bagi Hanafi segala orang yang tidak pandai bahasa Belanda, tidaklah masuk bilangan. Segala hal ikhwal yang berhubungan dengan dengan orang melayu dicatat dan dicemoohkan sampai kepada adat lembaga orang melayu dan agama Islam tidak mendapat perindahan serambut juga. Adat lembaga disebut tahyul. tidak heran kalau ia hidup tersisih benar dari pergaulan orang melayu. hanyalah kepada ibunya ada melekat hatinya.
Acap kali benar ia berkata, terutama kepada orang Belanda, “bahwa negeri Minangkabau sungguh indah, hanya sayang sckali penduduknya si minangkabau." Tapi, katanya pula seindah-indahnya negeri ini, bila tidak ada ibuku, niscaya sudah lamalah kutinggalkan."
Demikian juga ibunya, hanya suka menahan sakit senangnya di rumah Hanafi, karena kasih kepada anak yang hanya senang itu saja.
Pada suatu hari, sedang ia duduk berbaring di atas sebuah kursi malas di dalam kebun, sedang air mukanya jemih, pikirannya rupa selesai, maka menghampirilah ibunya, lalu duduk di atas bangku yang ada di dekat kursi itu.
"Hanafi," katanya, “sudah lama benar ibu hendak berhandai-handai dengan engkau, tapi kulihat engkau ada di dalam kesepian saja. Saat ini, sedang air mukamu jemih, keningmu licin, bolehkah ibu menutur niatku itu, supaya jangan menjadi duri dalam daging kesudahannya."
"Apa pula yang terasa di hati ibu, yang terhalang di mata, ceritakanlah. Gunung talangkah hendak meletus, padi sawah di makan tikus?"
" Bukan itu, Hanafi ! hanya penting sekali, penting buatmu, penting buat ibu, penting buat kita sekalian. Ingatlah anakku hanya engkau seorang saja, ayahmu sudah sampai ajalnya, tidak lain hidupku hanyalah buat engkau sendiri saja.
Hanafi memasang sebatang sigaret dan dengan tidak memandang kepada ibunya, berkatalah ia :
"berceritalah saya mendengarkan !"
"sudah berkali-kali mamak-mamakmu dari kampung datang kemari."
"Oh penting sekali. Benar, jika mereka hendak makan enak tidak ada keberatan bagiku, bila mereka setiap hari datang kemari. Hanya selagi saya di kantor saja bu, sebab saya memang tidak bergaul dengan orang-orang serupa itu. Saya disuduk, ia dihilir."
"Bukan buat makan-makan datang kemari, Hanafi, tapi besar sungguh yang dimaksud. Rumah gadang hendak runtuh."
“O. saya pula yang mesti menarah dan memahat di sana?. Bagus! Bukan hendak menyuruh engkau menarah dan memahat disana, mereka datang kemari, Hanafi hanya rumah runtuh itu buat sebut-sebutan sahaja. Yang sebenar-benamya janggal benar rupanya, karena engkau tidak melihat-lihat rumah kita. Sebenamya dari dahulu maksud mereka hendak mengangkat menjadi penghulu…"
"He, ha.ha.! bu ! benarkah pendengaranku ? menjadi penghulu ? saya akan menjadi penghulu dan akan belajar sembah menyembah-baik, asal mereka suka si buyung aku jadikan penongkat!"
"Hanafi, hanafi ! sudah ada di dalam kira-kira ibu, bahwa engkau akan mencemooh pula maksud orang tua-tua yang mulia itu, jadi buat mencegah jangan hati mereka tersinggung, sudahlah ibu tutup pembicaraan itu dari pangkalnya. Demikian juga tentang maksud mereka hendak memperumahkan engkau sudah ibu habisi dengan menyatakan tidak boleh jadi."…
Dengan contoh kasus pemanjaan di atas jelas sekali, bahwa tidak ada anak yang dimanjakan menjadi anak yang baik, yang saleh, vang berbakti kepada orang tua.
Dalam puisi ini tidak ada unsur cara orang tua menumpahkan kasih sayang yang berbeda-beda dan tidak ada sikap pemanjaan terhadap anak.
4. Kemesraan
Kemesraan berasal dari kata dasar mesra, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan ialah hubungan yang akrab baik antara pria wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga.
Dalam puisi ini tidak tergambarkan bahwa mereka ada di dalam kemesraan, karna mereka sudah berpisah.
Kemesraan pada dasamya merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam. Filsuf Rusia, Salovjef dalam bukunya makna kasih mengatakan "jika seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis secara serius, ia terlempar ke luar dari cinta diri. Ia mulai hidup untuk orang lain".
Pemyataan ini dijabarkan secara indah oleh William Shakespeare dalam kisah "romeo dan Juliet", bila di Indonesia kisah Roro mendut-Pronocitro.
Dalam puisi ini tidak ada bait yang menggambrakan pendapat William Shakespeare.
Yose Ortage Y Gasset dalam novelnya "On love" mengatakan "dikedalaman sanubarinya seorang pençinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan obyek cintanya. Persatuan bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya".
Selanjutnya Yose mengatakan, bahwa si pencinta tidaklah kehilangan pribadinya dalam aliran enersi cinta tersebut. Malahan pribadinya akan diperkaya, dan dibebaskan. Cinta yang demikian merupakan pintu bagi seseorang untuk mengenal dirinya sendiri.
Kemampuan mencinta memberi nilai hidup kita, dan menjadi ukuran terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita.
Dari uraian di atas terlihat betapa agung dan sucinya cinta itu. Bila seseorang mengobral cinta, maka orang itu merusak nilai cinta, yang berarti menurunkan martabat dirinya sendiri.
Dalam puisi ini tidak ada hal-hal yang merusak nilai cinta dan tidak ada unsur cinta yang menurunkan martabat dirinya sendiri.
Cinta yang berlanjut menimbulkan pengertian mesra atau kemesraan. Kemesraan adalah perwujudan cinta.
Kemesraan dapat menimbulkan daya kreativitas manusia. Dengan kemesraan orang dapat menciptakan berbagai bentu seni sesuai dengan kemampuan dan bakatnya. Rendra dalam puisinya " Episode " misalnya, melukiskan betapa kemesraan cinta merasuk kedalam jiwa dua sejoli muda-mudi yang scdang menjalin cinta.
Kami duduk berdua
di bangku halaman rumahnya.
Pohon jambu di halaman itu
berbuah dengan lebatnya
dan kami senang memandangnya.
angin yang lewat
memainkan daun yang berguguran.
tiba-tiba ia bertanya:
"mengapa sebuah kancing bajumu
lepas terbuka?"
aku hanya tertawa.
lalu ia sematkan dengan mesra
sebuah peniti menutup bajuku.
sementara itu aku bersihkan
guguran bunga jambu
yang mengotori rambutnya.
Kemesraan cinta tidak saja terpatri dalam lubuk hati masing-masing tetapi juga memancar dari sinar mata keduanya yang bening dan belaian-belaian mesra jari-jemari mereka yang bergetar.
Tiap manusia pemah bercinta, hanya saja tidak setiap manusia dapat melahirkan rasa cinta dalam bentuk seni. Bagi penyair mencurahkan rasa cintanya adalah biasa. Kalau Rendra mencurahkan kemesraannya dalam bentuk puisi, maka Chairil Anwar mencurahkan kemesraannya dalam bentuk yang bebas dari bentuk yang telah ada. Coba resapilah sajak kemesraan Chairil Anwar di bawah ini :
Ida
menembus sudah caya
udara tebal kabut
kaca hitam lumut
pecah pencar sekarang
di ruang lengang lapang
mari ria lagi
tujuh belas tahun kembali
bersepeda sama gandengan
kita jalani ini jalan
ria bahgia
tak acuh apa-apa
gembira-girang
biar hujan datang
kita mandi-basahkan diri
tahu pasti sebentar kering lagi.
Bentuk kemesraan pada puisi ini tidak ada, karena kedua pihak sudah tidak bersama, tapi salah satu pihak masih berharap.
Dalam seni tari berbagai daerah mengenal bentuk tari kemesraan seperti tari "karonsih" dari Jawa Tengah, tari "Gatotkaca Gandrung" juga dari Jawa Tengah. Tari Merak dari Jawa Barat, dan lain-lain yang biasanya ditarikan dalam resepsi perkawinan.
Dalam puisi ini tidak ada unsur kemesraan dalam bentuk tarian. Jangankan dalam bentuk tarian, tidak dalam bentuk tarian pun tidak bakalan ada, karena mereka sudah berpisah.
Dalam cerpen “transaksi" karangan Umar Nur Zain diceritakan tokoh "aku" , seorang pejabat yang berlagak demawan. Biasanya untuk mendapatkan tanda tangannya sering kali para bawahan menyatakan terima kasih mereka dengan macam-macam bentuk antara lain wanita segar berikut seluruh rekening hotel dan restoran.
Puspa seorang istri pemain band yang tidak begitu terkenal. Band suaminya dikontrak sebuah nigt-club kecil; karena pengunjung mengurang, penghasilannya mengecil. Anak puspa sakit mata dan hampir buta dan untuk operasi diperlukan uang setengah juta rupiah yang harus dilaksanakan di Manila.
Untuk keperluan itu "aku" bersedia membayar setengah juta rupiah kepada Puspa, asal ia mau mengawaninya di hotel semalam suntuk.
Transaksi terjadi, Puspa menerima uang setengah juta rupiah. Uang tersebut adalah untuk mengobati mata anaknya di Manila.
Cerpen itu mampu mengajak kita prihatin perihal solidaritas nasional. Misalnya perihal moral Puspa dan moral “aku" dari sudut pelajaran agama. Belum lagi' soal belum låbilnya honor musisi kita dan masih banyak lagi. Berkat kecermatan penulis terhadap atribut kota Metropolitan Jakarta membuat penelaah beranggapan cerpen tersebut mempunyai identitas
Indonesia. Pada hakekatnya penulis memprotes sengit kebangkrutan dan menyimanya moral kita dewasa ini.
Dalam puisi ini tidak ditemukan unsur yang berkaitan dengan cerpen transaksi karya Umar Nur Zain.
5. Pemujaan
Pemujaan adalah salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini ialah karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenanya. Apa sebab itu terjadi adalah karena Tuhan mencipta alam semesta. Seperti dalam surat Al-Furqon ayat 59 - 60 yang menyatakan, " Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta apa-apa diantara keduanya dalam enam rangkaian masa, kemudia dia bertahta di atas singgasana-Nya. Dia maha pengasih, maka tanyakanlah kepada-Nya tentang soal-soal apa yang perlu diketahui". Selanjutnya ayat 60, “Bila dikatakan kepada mereka, sujudlah kepada Tuhan yang maha pengasih “.
Tuhan adalah pencipta, tetapi Tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintahnya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memuja-Nya. Dalam surat Al-Mu'minin ayat 98 dinyatakan, “ Dan aku berlindung kepada-Mu. Ya Tuhanku, darí kehadiran-Nya di dekatku.
Karena itu jelaslah bagi kita semua, bahwa pemujaan kepada Tuhan adalah bagian hidup manusia, Karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia itu sendiri. Dan penciptaan semesta untuk manusia.
Kalau manusia cinta kepada Tuhan, karena Tuhan sungguh maha pengasih lagi maha penyayang. Kecintaan manusia itu dimanifestasikan dalam bentuk pemujaan:atau sholat. Dalam surat An-Nur ayat 41 antara lain menyatakan, “apakah engkau tidak.tahu bahwasanya Allah itu dipuja oleh segala yang ada di bumi dan dilangit."
Pendapat saya, puisi yang saya bahas tidak terdapat bentuk cinta kepada Tuhan yang merupakan salah astu amnifestasi yanf diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual.
Dalam kehidupan manusia terdapat berbagai cara pemujaan sesuai dengan agama, kepercayaan, kondisi, dan situasi. Sholat di rumah, di mesjid, sembahyang di pura, di candi, di gereja bahkan ditempat-tempat yang dianggap keramat merupakan perwujudan đari pemujaan kepada Tuhan atau yang dianggap Tuhan.
Pemujaan-pemujaan itu sebenarnya karena manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhannya. hal ini berarti manusia mohon ampun atas segala dosanya. mohon perlindungan, mohon dilimpahkan kebijaksanaan, agar ditunjukkan jalan yang benar, mohon ditambahkan segala kekurangan yang ada padanya, dan lain-lain.
Bila setiap hari sekian kali manusia memuja kebesarannya dan selalu mohon apa yang kita inginkan, dan Tuhan selalu mengabulkan permintaan umat-Nya, maka wajarlah cinta manusia kepada Tuhan adalah cinta mutlak. Cinta yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Alangkah besar dosa kita, apabila kita tidak mencintai-Nya, meskipun hanya sekejap.
Dalam puisi ini tidak ada unsur cara pemujaan kepada yang sesuai dengan agama, kepercayaan, kondisi, dan situasi. Tidak ada unsur komunikasi atau memuja kebesaran dan berdoa kepada Tuhan dalam puisi ini.
Dalam seni prosa misalnya banyak cerita yang mengagumkan nama Tuhan, misalnya roman "Di Bawah Lindungan Ka'bah" karangan almarhum Hamka, yang menitikberatkan pada kehidupan agama sebagai latar belakang cerita.
Dalan novel ini diceritakan tentang Hamid menjadi anak yatim setelah berumur 4 tahun. Sepeninggal ayahnya, ibu Hamid berjualan kue dan Hamid yang menjajakannya. H.Jafar yang hartawan dan demawan memungut Hamid untuk disekolahkan bersama-sama puteri tunggal H.Jafar, yang umumya dua tahun lebih muda dari Hamid, namanya Zainab. Hamid dan Zainab dianggap abang dan adik. Sctelah tamat dan berijazah Mulo, Zainab tinggal di rumah, nmasuk pingitan, scdangkan Hamid hersekolah agama di Padang Panjang. Perpisahan ini membuat Hamid kesepian, karena dengan diam-diam masing-masing abang dan adik itu bersemi benih cinta di hatinya.
Malang tak dapat ditolak, H.Jafar meninggal dunia. Kematian ini membuat perubalhan besar pada Hamid. la jarang mendatangi Zainab "kekasihnya" dan ibunya.
Sebelum ibu Hamid meninggal dunia. ia berpesan agar Hamid melupakan cintanya kepada Zainab, karena antara Zainah dan dia tidak sepadan kedudukannya di masyarakat.
Mak Asiah, ibu Zainab minta kepada hamid untuk membujuk Zainab, agar Zainab mau kawin dengan kemenakan almarhum H.Jafar. ayahnya, dengan maksud agar kekeluargaan tetap utuh.Betapa berat hati Hamid menyampaikan pemintaan ibu angkatnya itu untuk membujuk "kekasihnya" agar mau kawin dengan orang lain.
Tugas itu dilaksanakan, namun Zainab tak hendak kawin dulu. Scsudah peristiwa itu, Hamid meninggalkan sepucuk surat kepada Zainab. bahwa ia akan pergi dengan tujuan tak mencntu. Dalam perantauannya sampailah ia ke tanah suci, Mckkah. Disana ia kctemu Salch, kawan sekolah di padang panjang dahulu.
Ratna istri Saleh kawan akrab Zaenab, berkirim surat kepada suaminya di Mekkah, antara lain menceritakan bahwa Zaenab sakit sepeninggal Hamid. Dan dalam surat itu diterangkan bahwa Zaenab selalu menunggu kedatangan hamid. Zaenabpun berkirim surat kepada hamid, yang menyatakan, bila Hamid tak segera datang, ia akan meninggal dunia. Karena surat Zaenab itu, Hamid jatuh sakit. Demamnya makin keras. pada waktu berwukul di Arafah. Dalam kcadaan yang gawat, datang telegram dari istri Salch, bahwa Zaenab meninggal dunia. Mendengar berita itu, Hamid yang scdang ditandu dalam bertawaf mengelilingi Ka'bah ketujuh kalinya ia meninggal di bawah lindungan Ka'bah dengan senyuman, tanda rela dan sempuma.
Hamid yang tak tersampaikan cintanya. meskipun cintanya terbalas, lebih sukamendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam Roman ini kita jumpai moral yang tinggi parapelakunya. Kehalusan perasaan tokoh utamanya Hamid dan Zainab dilukiskan dengan indah oleh penulisnya. Betapa hancur hati seórang kekasih yang harus menasehati kekasihnya agar mau menikah dengan orang lain. Padahal kekasihnya adalah belahan hatinya. bagaimana orang sampai hati menyerahkan belahan hatinya kepada orang lain. Pesan ibunya agar melupakan cintanya kepada Zainab tertanam dalam lubuk hatinya karena itu ia lebih suka menjauhkan diri.
Dalam puisi yang saya bawakan ini tidak ditemukan unsur cinta yang tak ter
6. Belas Kasihan
Dalam surat Al-Qolam ayat 4. maka manusia menaruh belaas kasihan kepada orang lain. karena belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan oleh Allah SWT.
Perbuatan atau sifat menaruh belas kasihan adalah orang yang berahlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan. Masalahnya sanggupkah ia menggugah potensi belas kasihannya itu. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.
Menurut saya, pada subbab puisi Senja di pelabuhan kecil tidak mengandung makna belas kasihan.
7. Cinta Kasih Erotis
Cinta kasih kesaudaraan merupakan cinta kasih antar orang-orang yang sama-sama sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang yang lemah tanpa daya. Walaupun terdapat perbedaan besar antara kedua jenis tersebut, kedua-duanya mempunyai kesamaan bahwa pada hakekatnya cinta ksih tidak terbatas kepada seseorang saja. Bila saya kasihi saudara saya, semua anak saya, disamping itu bahkan saya saya kasihi semua anak-anak yang membutuhkan saya. Berlawanan dengan kedua jenis cinta kasih tersebut ialah cinta kasih erotis, yaitu kehausan akan penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan seseorang lainnya. Pada hakekatnya cinta kasih tersebut bersifat ekslusif, bukan universal, dan juga barangkali merupakan bentuk cinta kasih yang paling tidak dapat dipercaya.
Pertama-tama cinta kasih erotis kerap kali dicampurbaurkan dengan pengalaman yang eksplosif berupa jatuh cinta, yaitu keruntuhan tiba-tiba tembok yang sampai waktu itu terdapat diantara dua orang yang asing satu sama lain. Tetapi seperti yang telah dikatakan terlebih dahulu, pengalaman intimitas, kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakekatnya hanyalah sementara saja. Bilamana orang asing tadi telah menjadi seseorang yang diketahui secara intim , tak ada lagi rintangan yang harus diatasi, tidak ada lagi kemesraan tiba-tiba yang harus diperjuangkan. Pribadi yang dicintai telah dipahami orang seperti dirinya sendiri. Atau barangkali harus dikatakan "kurang" dipahami seperti dirinya sendiri. Apabila terdapat perasaan yang telah mendalam terhadap pribadi yang lain apabila orang dapat mengalami ketakterhitungan pribadinya sendiri, maka pribadi orang lain tidak pemah akan begitu biasa baginya, dan keajaiban mengatasi rintangan-rintangan dapat terjadi lagi berulang-ulang tiap hari. Tetapi, untuk kebanyakan orang pribadinya, seperti juga pribadi orang lain, mudah dipahami cukup lengkap. Untuk mereka intimitas atau kemesraan itu terutama diperoleh dengan cara hubungan seksual. Karena meereka mengalami keterpisahan orang lain terutama sebagai keterpisahan fisik, maka dengan dengan mengadakan penyatuan fisik, orang telah mengatasi keterpisahan tersebut, demikian anggapannya.
Disamping itu terdapat pula faktor-faktor lain yang untuk banyak orang mempunyai arti sebagai cara-cara mengatasi keterpisahan, seperti bercakap-cakap tentang kehidupan diri pribadi, tentang pengharapan-pengharapan dan kecemasan-kecemasannya, menampakkan dirl dengan segi-segi keanehannya, mengadakan hubungan dan minat yang sama terhadap dunia sekitar, semuanya itu dilaksanakan untuk mengatasi keterpisahan. Bahkan dengan memperlihatkan kemarahannya, kebenciannya, dan memperlihatkan kekurangannya menahan diri, semuanya dianggap bahwa telah dicapai intimitas. Hal ini dapat menerangkan adanya daya tarik per versi (busuk). Yang kerap kali terdapat diantara sepasang pengantin yang rupa-rupanya hanya dapat berdekatan (intim) yang satu terhadap yang lain bila mereka berada di tempat tidur atau bila mereka saling melepaskan amarahnya terhadap satu sama lain. Tetapi semua jenis intimitas semacam ini kian lama kian cenderung untuk berkurang. Akibatnya ialah bahwa orang mencari hubungan cinta kasih dengan orang lain, dengan seorang asing bam yang kemudian pada gilirannya diubah lagi menjadi dangkal sehingga berakhir dengan keinginan untuk menaklukannya sekali lagi, untuk memperoleh cinta baru lagi, senantiasa dengan berilusi bahwa cinta yang baru itu akan berbeda pula dengan yang sudah-sudah. ilusi-ilusi ini sangat mudah diperoleh karena sifat keinginan seksual yang sangat mudah menipu diri sendiri.
Dalam puisi Senja di pelabuhan kecil tidak terdapat kata yang mengandung arti cinta kasih erotis.
DAFTAR PUSAKA
Muhammad Abdul Rohman, Teti Sobari, dan Via Nugraha. (2020). ANALISIS STRUKTUR BATIN PUISI "SENJA DI PELABUHAN KECIL" KARYA CHAIRIL ANWAR. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 4(3).
Comments
Post a Comment